Jurnalindustry.com – Jakarta — Dalam rangka mendukung visi pembangunan nasional Asta Cita, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus memperkuat daya saing industri nasional di tengah dinamika global yang kian kompetitif. Salah satu fokus utama yang digenjot adalah penyiapan sumber daya manusia (SDM) industri yang kompeten, adaptif, dan berdaya saing global.
Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan, penguatan kualitas SDM industri menjadi fondasi utama dalam mendorong pertumbuhan industri nasional yang berkelanjutan.
Untuk itu, Kemenperin secara konsisten menyelenggarakan pendidikan vokasi industri yang selaras dengan kebutuhan dunia usaha dan industri.
“Ketersediaan SDM industri yang kompeten menjadi salah satu penggerak utama dalam meningkatkan daya saing industri nasional,” ujar Agus dalam keterangan tertulis di Jakarta.
Sepanjang tahun 2025, Kemenperin mencatat keberhasilan meluluskan 5.386 siswa dan mahasiswa dari 22 unit pendidikan vokasi di bawah naungannya. Para lulusan tersebut dibekali kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan industri manufaktur, siap kerja, serta adaptif terhadap perkembangan teknologi industri terkini.
Tingkat serapan lulusan ke dunia industri pun cukup tinggi, mencapai 68 persen saat kelulusan, dan ditargetkan meningkat hingga 100 persen dalam enam bulan setelah lulus.
Sebagai unit kerja yang bertanggung jawab atas pembangunan SDM industri, Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri (BPSDMI) terus memperluas kolaborasi strategis dengan mitra industri dan institusi pendidikan, baik di dalam maupun luar negeri.
Salah satu langkah konkret ditunjukkan melalui Program Luban–Mozi College, hasil kerja sama Politeknik ATK Yogyakarta dengan Sailun Group dan Qingdao Technical College (QTC) dari Tiongkok. Program ini berhasil meluluskan mahasiswa vokasi pada Selasa (20/1).
Politeknik ATK Yogyakarta, yang berada di bawah naungan BPSDMI Kemenperin dan berfokus pada pengembangan industri kulit, karet, dan plastik, menyeleksi serta mengirimkan 10 mahasiswa untuk mengikuti program pendidikan dan praktik industri di Tiongkok sejak September 2025.
Kepala BPSDMI, Doddy Rahadi menyampaikan, program ini menjadi wujud nyata kolaborasi global antara dunia pendidikan dan industri dalam mencetak SDM industri unggul.
“Pengalaman belajar langsung di lingkungan industri internasional menjadi bagian penting dalam membentuk smart talent yang siap menghadapi era industri modern,” kata Doddy.
Menurutnya, SDM industri masa depan tidak hanya dituntut menguasai kompetensi teknis, tetapi juga mampu beradaptasi dengan transformasi digital dan konsep smart manufacturing yang terus berkembang.
Program pendidikan vokasi internasional ini berlangsung selama empat bulan dengan pemanfaatan teknologi tinggi seperti Internet of Things (IoT) dan Artificial Intelligence (AI), serta penguatan kemampuan Bahasa Mandarin sebagai bekal kompetensi global.
Mahasiswa peserta Program Luban–Mozi College tercatat sebagai mahasiswa internasional pertama yang dibina langsung oleh Sailun Group dan QTC. Bahkan, sebagian peserta berhasil lulus simulasi ujian Bahasa Mandarin HSK Level 3, sementara lainnya mencapai HSK Level 4.
President QTC Xing Guanlu menilai program ini sebagai langkah strategis dalam memperdalam integrasi internasional antara industri dan pendidikan.
“Saya berharap para peserta dapat membawa kembali ke Indonesia pengetahuan, pengalaman, dan pemahaman yang diperoleh di Tiongkok, serta menjadi profesional yang unggul secara teknis, mahir berbahasa Mandarin, dan memiliki wawasan budaya yang luas,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Pusat Pengembangan Pendidikan Vokasi Industri (PPPVI) Wulan Aprilianti Permatasari menegaskan komitmen Kemenperin untuk terus melanjutkan dan memperluas program kelas industri internasional tersebut.
“Kami berharap program ini dapat berlanjut dengan pengiriman angkatan berikutnya sekaligus memperkuat kerja sama antarinstitusi,” tuturnya.
Para lulusan Program Luban–Mozi College selanjutnya akan memulai karier profesional di Sailun Manufacturing Indonesia yang berlokasi di Demak, Jawa Tengah, sekaligus membawa misi menunjukkan kualitas dan daya saing SDM Indonesia di tingkat global.































