Jurnalindustry.com – Seoul – Indonesia kembali menunjukkan pesonanya sebagai magnet investasi global. Hal ini tercermin dalam penyelenggaraan “2026 Indonesian Day Business Forum” di Seoul, Korea Selatan, sebuah forum strategis yang mempertemukan pemerintah, pelaku usaha, dan investor untuk memperkuat kerja sama investasi lintas negara, khususnya antara Indonesia dan Korea Selatan.
Forum prestisius ini diprakarsai oleh PT Bank KB Indonesia Tbk (KB Bank) bersama KB Kookmin Bank, serta didukung penuh oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia di Seoul. Acara ini menjadi wadah dialog strategis mengenai peluang perdagangan, investasi, dan pengembangan industri berkelanjutan di Indonesia.
Agenda ini dihadiri sejumlah tokoh penting, antara lain Ali Andika Wardhana, Deputy Chief of Mission KBRI Seoul; Lee Jong Min, Chief of Global Business Group KB Kookmin Bank; serta Kunardy Darma Lie, Presiden Direktur PT Bank KB Indonesia Tbk. Turut hadir PT Suryacipta Swadaya, pengembang kawasan industri Suryacipta City of Industry dan Subang Smartpolitan, sebagai mitra strategis KB Bank. Peserta forum berasal dari berbagai sektor industri unggulan, mulai dari kesehatan, teknologi, logistik, kosmeseutikal, kendaraan listrik, hingga pengelolaan limbah.
Investasi Korea Selatan Mengalir Deras ke Indonesia
Daya tarik Indonesia sebagai tujuan investasi dinilai semakin kompetitif. Berdasarkan data Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, arus Penanaman Modal Asing (PMA) terus menunjukkan tren positif, dengan Korea Selatan secara konsisten menempati lima besar negara investor terbesar dari Asia.
Optimisme ini tercermin dari realisasi investasi Korea Selatan yang mencapai USD 13,3 miliar sepanjang periode 2020–2025. Angka tersebut menjadi sinyal kuat atas kepercayaan investor Korea terhadap stabilitas ekonomi, iklim usaha yang kondusif, serta potensi pasar domestik Indonesia yang terus berkembang.
Sektor manufaktur menjadi sorotan utama dalam forum ini. Industri manufaktur dinilai sebagai tulang punggung perekonomian nasional, dengan pertumbuhan tahunan yang konsisten dan tren investasi yang terus meningkat dalam tiga tahun terakhir.
Dalam salah satu sesi diskusi, Abednego Purnomo, Vice President Sales, Marketing, and Tenant Relations PT Suryacipta Swadaya, menekankan pentingnya pengembangan infrastruktur strategis dalam menarik investasi manufaktur.
“Selain faktor biaya, investor sangat mempertimbangkan efisiensi waktu tempuh. Lokasi yang strategis sejak awal menjadi penentu utama kelancaran rantai logistik,” jelasnya.
Ia juga mengapresiasi percepatan pembangunan infrastruktur nasional, khususnya di Jawa Barat, seperti hadirnya jalan tol baru dan Pelabuhan Patimban, yang secara signifikan meningkatkan efisiensi logistik maritim.
Lebih lanjut, Abednego menegaskan bahwa infrastruktur strategis nasional menjadi katalis utama pengembangan Subang Smartpolitan. Kawasan kota mandiri terintegrasi ini mengusung konsep “Smart, Green, and Sustainable City”, yang dirancang sebagai destinasi unggulan bagi investasi sektor manufaktur dan komersial berorientasi masa depan.
Dengan dukungan infrastruktur kelas dunia dan ekosistem industri yang terintegrasi, Subang Smartpolitan diproyeksikan menjadi episentrum baru pertumbuhan industri nasional sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai pusat manufaktur regional.































