Jurnalindustry.com – Jakarta – Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mencatat penarikan utang baru sebesar Rp258,7 triliun hingga akhir Maret 2026. Angka ini memang lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai Rp272,1 triliun, namun perkembangan defisit anggaran justru menunjukkan lonjakan signifikan.
Dalam laporan APBN Kinerja dan Fakta edisi April 2026, Kemenkeu menegaskan bahwa strategi pembiayaan dilakukan secara hati-hati dan terukur. Pemerintah mempertimbangkan kondisi likuiditas, pengelolaan kas, serta dinamika pasar keuangan dalam menarik utang.
Secara persentase, realisasi utang tersebut setara 31,1% dari target APBN 2026 sebesar Rp832,2 triliun. Rasio ini lebih rendah dibandingkan capaian tahun lalu yang sudah menyentuh 35,1% dari target Rp775,9 triliun pada periode yang sama.
Sementara itu, pembiayaan non-utang masih sangat minim. Hingga Maret 2026, realisasinya baru mencapai Rp1,3 triliun atau 0,9% dari target Rp143,1 triliun. Angka ini turun drastis dibandingkan tahun lalu yang mencapai Rp19,6 triliun atau 12,3% dari targetnya.
Dengan demikian, total pembiayaan anggaran selama kuartal I-2026 tercatat sebesar Rp257,4 triliun, sedikit lebih tinggi dibandingkan Rp252,5 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Kemenkeu menyatakan bahwa pengelolaan utang tetap berada di jalur yang direncanakan (on-track), dengan dukungan strategi active cash and debt management untuk menjaga ketersediaan kas pemerintah dan memperkuat saldo anggaran lebih (SAL).
Namun, perhatian utama justru datang dari sisi defisit anggaran. Hingga akhir Maret 2026, defisit APBN mencapai Rp240,1 triliun atau setara 34,8% dari target tahunan Rp689,1 triliun.
Angka ini melonjak 140,5% dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang hanya sebesar Rp99,8 triliun atau 16,2% dari target defisit saat itu. Lonjakan tajam ini menjadi sinyal tekanan terhadap fiskal, meski penarikan utang masih relatif terkendali.
Kondisi ini menunjukkan bahwa pemerintah menghadapi tantangan dalam menjaga keseimbangan antara kebutuhan pembiayaan dan stabilitas fiskal di tengah dinamika ekonomi yang terus berkembang.






























