Jurnalindustry.com – Purwakarta – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus tancap gas memperkuat struktur industri logam nasional demi menopang pertumbuhan ekonomi dan mewujudkan industrialisasi berkelanjutan. Langkah konkret terbaru ditandai dengan ground breaking fasilitas Continuous Galvanizing Line (CGL) 2 PT Tata Metal Lestari di Purwakarta, Jawa Barat.
Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan bahwa industri baja memiliki peran strategis dalam pembangunan nasional, mulai dari infrastruktur hingga pengembangan industri turunan seperti otomotif, permesinan, galangan kapal, dan sektor energi.
“Industri baja nasional menjadi tulang punggung pembangunan dan penguatan daya saing industri dalam negeri,” ujar Agus dalam keterangannya.
Kemenperin mencatat, dalam lima tahun terakhir, produksi baja nasional melonjak hampir 98,5 persen dibandingkan tahun 2019 yang hanya mencapai 8,5 juta ton. Lonjakan ini mencerminkan kapasitas industri baja Indonesia yang semakin kuat dan kompetitif, baik di pasar domestik maupun global.
Untuk menjaga momentum tersebut, pemerintah terus mengoptimalkan berbagai kebijakan strategis, mulai dari trade remedies, penerapan SNI wajib, fasilitas Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT), hingga insentif fiskal dan penerapan prinsip industri hijau.
“Kebijakan ini kami arahkan untuk meningkatkan utilisasi dan kapasitas industri baja secara berkelanjutan,” tambah Agus.
Direktur Industri Logam Kemenperin Dodiet Prasetyo menyampaikan apresiasi kepada PT Tata Metal Lestari dan Tatalogam Group atas komitmen investasinya. Pembangunan CGL 2 dinilai sejalan dengan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, khususnya dalam memperkuat kemandirian industri dan hilirisasi.
“Proyek ini akan memperkuat ekosistem industri baja dari hulu hingga hilir, meningkatkan nilai tambah dalam negeri, menciptakan lapangan kerja, dan menggerakkan ekonomi lokal,” ujar Dodiet.
Total investasi lanjutan proyek ini mencapai Rp1,5 triliun, dengan penyerapan tenaga kerja sekitar 350 orang, yang mayoritas berasal dari wilayah Purwakarta dan Jawa Barat.
VP of Operations PT Tata Metal Lestari, Stephanus Koeswandi, mengungkapkan bahwa pembangunan CGL 2 merupakan bagian dari roadmap perusahaan untuk memperkuat industri baja menengah (midstream).
“Industri antara adalah penghubung vital antara hulu dan hilir. Tanpa sektor ini yang kuat, ketergantungan impor akan terus tinggi,” jelasnya.
Menariknya, fasilitas ini menjadi line pertama di Asia Tenggara yang menggunakan teknologi pelapisan zinc magnesium serta zinc aluminium magnesium, bekerja sama dengan Tenova, perusahaan teknologi asal Italia. Teknologi ini mampu memperpanjang umur baja hingga empat kali lipat, sekaligus lebih efisien dan ramah lingkungan.
CGL 2 akan menambah kapasitas produksi sebesar 250 ribu ton baja lapis per tahun, melengkapi produksi CGL 1 di Cikarang yang telah mencapai 500 ribu ton per tahun. Dalam jangka panjang, PT Tata Metal Lestari menargetkan kapasitas terpasang hingga 2,5 juta ton dalam 10 tahun ke depan.
Tak hanya memenuhi pasar domestik, PT Tata Metal Lestari juga telah mengekspor baja lapis ke 25 negara, termasuk Amerika Serikat dan Eropa yang dikenal memiliki standar kualitas tinggi.
“Kami ingin menghadirkan produk Made in Indonesia berstandar global, sekaligus mendukung Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN),” tutup Stephanus.
Dengan kehadiran CGL 2, pemerintah optimistis industri baja nasional akan semakin berdaya saing, memperkuat ketahanan industri, serta menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan.































