Jurnalindustry.com – Jakarta – Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin) Faisol Riza menegaskan pentingnya kerja sama BRICS dalam membentuk masa depan industri global.
Hal ini ia sampaikan saat mewakili Menteri Perindustrian RI dalam BRICS Forum on Partnership on New Industrial Revolution (PartNIR) 2025 di Xiamen, Tiongkok, pada 16 September 2025.
Forum yang mengusung tema “Unlocking the Potential of BRICS Cooperation for Inclusive and Sustainable Industrialization” ini menjadi ajang strategis untuk memperkuat kolaborasi internasional, membuka peluang investasi, dan memperluas akses pasar global bagi produk manufaktur Indonesia.
Dalam sambutannya, Faisol menyebut kerja sama BRICS hadir di waktu yang tepat, di tengah perubahan besar akibat digitalisasi, transisi energi hijau, dan pergeseran rantai nilai internasional.
“Industrialiasi harus berjalan beriringan dengan inklusivitas, keadilan, dan keberlanjutan. Suara negara berkembang harus ikut menentukan arah industri dan rantai pasok global,” tegasnya.
Indonesia sendiri memiliki peta jalan Making Indonesia 4.0 serta Strategi Baru Industri Nasional (SBIN) yang fokus pada empat pilar utama antara lain; pertama, Hilirisasi SDA (nikel, tembaga, bauksit) untuk menghasilkan produk bernilai tambah tinggi. Kedua, Industri hijau sejalan target net zero emission 2060.
Selanjutnya Ketiga, Digitalisasi industri melalui adopsi teknologi 4.0 seperti AI, IoT, dan cloud computing. Dan Keempat, Penguatan SDM industri melalui pendidikan vokasi dan platform pembelajaran digital.
Bagi kami, manufaktur cerdas bukan hanya efisiensi, tetapi juga ketahanan, keberlanjutan, dan inklusivitas,” ujar Faisol.
Industri Manufaktur Masih Jadi Andalan Ekonomi
Pada triwulan II 2025, industri manufaktur nonmigas tumbuh 5,60% (YoY), melampaui pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,12%, dengan kontribusi 16,92% terhadap PDB nasional.
Direktur Jenderal Ketahanan, Perwilayahan dan Akses Industri Internasional (KPAII), Tri Supondy, menambahkan Indonesia fokus membangun ekosistem industri masa depan melalui riset material maju, energi terbarukan, serta pengembangan industri farmasi dan alat kesehatan.
“Kolaborasi dengan negara-negara BRICS akan mempercepat riset, inovasi, dan berbagi pengetahuan dalam transformasi industri global menuju ekonomi hijau dan inklusif,” kata Tri.
Sektor farmasi juga disorot sebagai bidang vital. Meski tumbuh pesat, Indonesia masih menghadapi tantangan ketergantungan impor bahan baku obat aktif dan keterbatasan produksi obat biologis. Kerja sama dengan BRICS dinilai akan memperkuat kapasitas domestik.
Tri menegaskan, Indonesia siap berperan aktif dalam kemitraan BRICS untuk menghadirkan industri yang hijau, inklusif, dan berbasis inovasi.
“Bersama mitra BRICS, kita memiliki sumber daya dan kapasitas untuk membentuk masa depan industri global yang lebih berkelanjutan. Indonesia siap menjadi bagian penting dari revolusi industri baru ini,” pungkasnya.































