Jurnalindustry.com – Jakarta – CEO Rosneft Oil Company Igor Sechin melontarkan pernyataan tajam terkait kondisi tata kelola global.
Dalam forum ekonomi internasional St. Petersburg International Economic Forum (SPIEF) 2026, Sechin menyebut sejumlah lembaga internasional seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), Dana Moneter Internasional (IMF), hingga Bank Dunia telah kehilangan kemampuan menjalankan fungsi sebagai regulator global.
Menurut Sechin, sistem yang selama ini dikenal sebagai rules-based order atau tatanan berbasis aturan tidak lagi berjalan efektif.
Ia menilai ekonomi dunia kini semakin dipengaruhi kepentingan korporasi teknologi, militer, dan sektor keuangan.
“Sanksi telah berubah menjadi instrumen pemaksaan dan persaingan yang tidak adil,” ujar Sechin dalam pidatonya yang bertajuk The Beginning of the End or the End of the Beginning: What Remains at the Bottom of Pandora’s Box?.
Sechin juga memperingatkan potensi krisis baru yang berpusat di Timur Tengah, khususnya kawasan Selat Hormuz. Jalur strategis tersebut menjadi salah satu urat nadi perdagangan minyak, gas, dan pupuk dunia. Gangguan pasokan di wilayah itu dinilai berisiko memicu lonjakan harga energi dan pangan global.
Peringatan ini relevan bagi Indonesia yang masih bergantung pada impor energi. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan nilai impor Indonesia pada 2024 mencapai US$235,2 miliar, termasuk impor migas sebesar US$36,3 miliar.
Selain energi, Sechin juga menyoroti perubahan sistem keuangan global. Ia menyebut meningkatnya penggunaan dolar AS sebagai alat sanksi mendorong banyak negara mencari alternatif sistem pembayaran dan memperkuat cadangan aset seperti emas.
Pernyataan tersebut menambah daftar kekhawatiran terhadap kondisi ekonomi global yang saat ini dibayangi ketegangan geopolitik, perang dagang, hingga ancaman gangguan rantai pasok internasional.






























