Jurnalindustry.com – Cikarang – Menuju Indonesia Emas 2045, berbagai transformasi tengah dilakukan di bidang pendidikan, termasuk pengintegrasian teknologi artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan ke dalam sistem pembelajaran.
Merespons hal tersebut, President University menyelenggarakan Kuliah Umum bertema “The Future of Learning: How AI and Digital Literacy are Reshaping Basic Education” pada Selasa (15/7) di Fablab President University Convention Center (PUCC), Kota Jababeka – Cikarang.
Adapun kuliah umum ini menghadirkan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti sebagai pembicara utama.
Acara dibuka oleh pendiri President University Setyono Djuandi (SD) Darmono, yang dalam sambutannya menyampaikan dukungan terhadap arah kebijakan pendidikan nasional. “Hal-hal yang akan dibahas hari ini dapat memberikan inspirasi untuk membangun sistem edukasi yang lebih baik di Indonesia, bahkan mungkin juga di Asia Tenggara,” tegasnya.
Dengan berbagai masalah yang dihadapi saat ini, dirinya berharap dunia pendidikan dapat menjadi solusi untuk mengatasi dan mengurangi angka pengangguran. “Harapannya, mahasiswa kami tidak hanya menjadi karyawan, tetapi juga mampu memberdayakan diri mereka sendiri,” kata Darmono.
Acara dilanjutkan dengan kuliah umum dari Mendikdasmen Abdul Mu’ti. Pada kesempatan tersebut, ia menjelaskan bahwa perkembangan pesat teknologi kecerdasan buatan (AI) telah menghadirkan transformasi besar di berbagai sektor kehidupan, termasuk dunia kerja dan pendidikan.
Kemampuan AI dan robot untuk bekerja tanpa lelah dengan tingkat presisi tinggi menjadikan banyak proses menjadi lebih efisien dan produktif. Kemajuan ini berdampak pada hilangnya sejumlah jenis pekerjaan tapi juga melahirkan banyak pekerjaan baru yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya.
Tantangan yang tak kalah kompleks juga terjadi dalam bidang pendidikan Di era digital ini, kebiasaan membaca buku atau berkunjung ke perpustakaan semakin berkurang. Siswa cenderung mengandalkan pencarian cepat melalui internet.
“Kini muncul istilah seperti professor download atau doctor download karena semua informasi seolah bisa didapat hanya dengan mengunduh. Padahal, hasilnya belum tentu akurat atau valid. Apalagi sekarang ini, banyak orang hanya ingin pembenaran, bukan kebenaran,” tambahnya.
Untuk menanggapi hal tersebut, Abdul Mu’ti menyebutkan bahwa pemerintah tengah merancang pengintegrasian AI dalam kurikulum pendidikan dasar dan menengah. AI direncanakan menjadi bagian dari mata pelajaran pilihan pada ajaran 2025/2026, bersanding kecakapan hidup abad ke-21 lainnya, seperti coding.
“Anak-anak kita perlu dikenalkan sejak dini kepada AI. Tapi untuk pelaksanaannya, (sekolah) yang siap saja yang melaksanakan,” ujar Abdul Mu’ti.
Menurutnya, mata pelajaran (mapel) berbasis teknologi informasi ini hanya akan diberlakukan di sekolah yang sudah memiliki sarana yang mumpuni. “Karena, pada pelaksanaan kegiatannya, butuh alat-alat yang canggih, jaringan internet yang stabil, sedangkan kita ketahui, belum seluruh sekolah kita ini punya sarana itu,” kata Abdul Mu’ti.
Dari pemberlakuan mapel AI di jenjang SD ini nantinya, Abdul Mu’ti, berharap bisa menjadikan anak-anak di Indonesia memiliki kemampuan dan kecerdasan digital.
Selain pentingnya kemampuan dan kecerdasan digital, Abdul Mu’ti juga menjelaskan betapa pentingnya kreativitas untuk perkembangan inovasi di masa depan. Menurutnya, kreativitas adalah kunci dari lahirnya inovasi.
“Kreativitas mungkin tidak dapat diajarkan, tapi kita dapat menjadikan kreativitas sebagai kebiasaan. Kreativitas sering kali merupakan awal terbukanya lapangan kerja baru. Inilah saatnya untuk mengkombinasikan kreativitas dan juga keahlian dalam teknologi,” tegas Abdul Mu’ti.
Abdul Mu’ti juga menegaskan bahwa kreativitas tidak hanyalah awal kelahiran berbagai gagasan dan kesempatan baru, tapi juga kunci untuk tetap menjadi relevan di dunia yang dikuasai oleh teknologi saat ini.
Meskipun perkembangan teknologi digital memiliki banyak fungsi, tapi dampak negatifnya tidak dapat dikesampingkan. Salah satu dampak yang sangat terlihat dan dikhawatirkan oleh masyarakat adalah fenomena Brain Rot.
Menurut Abdul Mu’ti, satu-satunya cara untuk menangani fenomena ini adalah melalui pendidikan karakter dan juga mapel Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKN).































