Jurnalindustry.com – Jakarta – Transformasi energi di sektor industri kian nyata. PT Muliaglass dan PT Muliakeramik Indahraya resmi mengoperasikan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Atap berkapasitas 22,5 MW di kawasan industri Cikarang, Bekasi, menjadikannya sebagai instalasi PLTS atap terbesar di Indonesia saat ini.
Proyek hasil kolaborasi dengan PT Xurya Daya Indonesia ini mencakup 36.862 panel surya di atas lahan seluas 122.783 meter persegi, setara 17 kali lapangan sepak bola Gelora Bung Karno.
Dari sisi lingkungan, instalasi ini diproyeksikan mampu mengurangi lebih dari 26,8 juta kilogram emisi karbon dioksida (CO₂) per tahun, setara dengan penyerapan oleh hampir 200 ribu pohon. Selain itu, penggunaan energi surya ini juga membantu menekan ketergantungan terhadap batu bara.
Secara operasional, PLTS ini menghasilkan sekitar 68.500 kWh listrik per hari untuk menopang aktivitas produksi pabrik yang beroperasi 24 jam.
Sekretaris Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konversi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Harris, mengapresiasi langkah tersebut sebagai bagian penting dalam mendorong transisi energi nasional.
“Implementasi PLTS atap ini memperkuat swasembada energi sekaligus berkontribusi pada penurunan emisi gas rumah kaca,” ujarnya.
Direktur PT Mulia Industrindo Tbk, Ekman Tjandranegara, menegaskan bahwa proyek ini menjadi strategi perusahaan dalam menjaga keberlanjutan operasional tanpa mengganggu kualitas produksi.
“Ini adalah langkah strategis untuk memastikan efisiensi energi sekaligus mendukung agenda keberlanjutan jangka panjang perusahaan,” katanya.
Tren penggunaan PLTS atap di sektor industri sendiri terus meningkat. Data PLN mencatat hingga 2026 kapasitas terpasang telah mencapai 861,14 MWp, dengan sekitar 81 persen berasal dari sektor industri.
Kepala Badan Standardisasi dan Kebijakan Jasa Industri Kemenperin, Emmy Suryandari, menyebut langkah ini sejalan dengan target Net Zero Emission (NZE) sektor industri pada 2050.
Dengan keberhasilan proyek ini, PLTS atap dinilai bukan lagi sekadar alternatif, melainkan telah menjadi bagian dari strategi bisnis industri modern yang efisien dan berkelanjutan.




























