Jurnalindustry.com – Kuala Lumpur – ASEAN Foundation resmi meluncurkan program regional bertajuk Scam Ready ASEAN, sebuah gerakan besar untuk melindungi masyarakat Asia Tenggara dari ancaman penipuan online yang kian masif dan canggih. Program ini diumumkan dalam ajang Google 2026 Online Safety Dialogue di Kuala Lumpur, Kamis (7/5/2026).
Didukung pendanaan sebesar USD 5 juta atau sekitar Rp82 miliar dari Google.org, inisiatif ini menargetkan peningkatan literasi dan ketahanan digital bagi 3 juta masyarakat ASEAN. Program tersebut digadang-gadang menjadi salah satu upaya pertahanan digital terbesar di kawasan dalam menghadapi ledakan kasus scam dan fraud online.
ASEAN Foundation mengungkapkan, penipuan digital kini menjadi ancaman serius yang menyerang lintas negara, sektor, hingga kelompok usia. Transformasi digital yang berkembang pesat memang membuka peluang ekonomi baru, namun juga meningkatkan risiko kejahatan siber.
Sepanjang 2024, kerugian akibat penipuan online di Asia Tenggara diperkirakan mencapai USD 23,6 miliar.
Sementara di Indonesia, data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melalui Indonesia Anti-Scam Centre (IASC) mencatat lebih dari 411 ribu laporan penipuan online sepanjang 2025 dengan estimasi kerugian mencapai USD 550 juta atau sekitar Rp9 triliun.
Adapun, jenis penipuan yang paling marak meliputi: Phishing, Rekayasa sosial, Penipuan berkedok identitas (impersonation), Investasi bodong online, dan Penipuan pembayaran QR.
Modus-modus tersebut semakin sulit dideteksi karena memanfaatkan teknologi AI generatif, media sosial, hingga sistem pembayaran digital.
Melalui Scam Ready ASEAN, ASEAN Foundation akan menggandeng 20 organisasi lokal di 11 negara anggota ASEAN menggunakan metode Train-the-Trainer berskala besar.
Sebanyak 2.000 Master Trainer akan diterjunkan untuk memberikan edukasi kepada sedikitnya 550 ribu penerima manfaat langsung melalui modul interaktif dan permainan edukatif “Be Scam Ready”.
Selain pelatihan, program ini juga akan diperkuat dengan Kampanye kesadaran publik lokal, Enam dialog kebijakan nasional, serta Tiga dialog regional lintas negara.
Direktur Eksekutif ASEAN Foundation, Piti Srisangnam mengatakan, penipuan online kini bukan lagi masalah individual, melainkan ancaman kolektif kawasan.
“Penipuan saat ini bukan lagi insiden terisolasi, tetapi tantangan bersama yang terus berkembang dan memengaruhi masyarakat lintas negara dan komunitas. Scam Ready ASEAN hadir untuk mengubah pendekatan dari sekadar bereaksi menjadi mencegah,” ujarnya.
Vice President Google Asia Tenggara, Sapna Chadha menegaskan, keamanan digital menjadi fondasi utama pertumbuhan ekonomi digital ASEAN.
“Untuk tetap selangkah lebih maju dari pelaku kejahatan siber, kami tidak hanya meningkatkan keamanan platform, tetapi juga mendukung edukasi masyarakat melalui Scam Ready ASEAN,” kata Sapna.
Menurutnya, perang melawan penipuan online membutuhkan pendekatan kolaboratif antara pemerintah, industri teknologi, lembaga keuangan, dan masyarakat sipil.
Sebelumnya, ASEAN telah membentuk ASEAN Anti-Scam Working Group pada Pertemuan Menteri Digital ASEAN ke-4 tahun 2024 untuk memperkuat koordinasi antarnegara dalam menangani penipuan digital.
Peluncuran Scam Ready ASEAN menjadi langkah lanjutan untuk menerjemahkan kebijakan tersebut ke dalam aksi nyata di masyarakat.































