https://jurnalindustry.com Jakarta – Industri keramik nasional mulai merasakan dampak pembatasan pasokan gas bumi oleh PGN. Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki) mencatat hingga September 2026 sedikitnya enam perusahaan mulai menutup line produksi akibat keterbatasan pasokan gas.
Ketua Umum Asaki, Edy Suyanto mengatakan, pembatasan tersebut membuat kapasitas produksi industri keramik ikut menurun. Bahkan, pelaku industri mendapat peringatan dari PGN terkait penggunaan gas yang melebihi kuota.
“Dalam surat edaran yang kami terima juga tertulis adanya teguran dari pihak PGN yang akan mematikan pasokan gas jika ada pemakaian yang melebihi kuota yang ditetapkan,” ujar Edy.
Menurut Edy, persoalan tersebut semakin berat karena harga gas industri dengan skema Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) juga mengalami kenaikan. Harga yang sebelumnya sekitar US$8 per MMBTU meningkat menjadi US$9 per MMBTU atau naik sekitar 12 persen.
Kenaikan harga dan pembatasan pasokan tersebut dinilai berpotensi mengganggu daya saing industri keramik nasional. Kondisi itu juga menimbulkan ketidakpastian bagi pelaku usaha yang telah menyiapkan investasi untuk meningkatkan kapasitas produksi.
Padahal, industri keramik tengah melakukan ekspansi kapasitas. Berdasarkan data Asaki, pada 2026 terdapat tambahan kapasitas produksi sekitar 38 juta meter persegi.
Dengan tambahan tersebut, kapasitas terpasang industri keramik nasional meningkat dari 648 juta meter persegi pada 2025 menjadi 686 juta meter persegi pada 2026.
Ekspansi masih akan berlanjut. Pada 2027 hingga semester I 2028, terdapat rencana tambahan kapasitas sekitar 72 juta meter persegi per tahun. Jika terealisasi, kapasitas terpasang nasional diproyeksikan mencapai 758 juta meter persegi.
Komitmen ekspansi tersebut membutuhkan investasi sekitar Rp12 triliun dan diperkirakan mampu menyerap hingga 7.500 tenaga kerja.
Edy mempertanyakan bagaimana industri keramik dapat terus melakukan ekspansi jika pasokan energi untuk produksi justru dibatasi.
“Bagaimana industri keramik mau tumbuh kalau pasokan gas harus dibatasi, bagaimana PMI manufaktur bisa tumbuh ekspansi,” tegasnya.
Menurut Asaki, kepastian pasokan dan harga gas menjadi faktor penting bagi keberlanjutan investasi industri keramik. Pembatasan pasokan dikhawatirkan tidak hanya menekan produksi, tetapi juga menghambat ekspansi dan daya saing manufaktur nasional.



























