Jurnalindustry.com – Jakarta – Pemerintah Indonesia mulai menjajaki langkah strategis untuk mengalihkan sebagian impor energi dari kawasan Timur Tengah ke negara lain, termasuk Amerika Serikat. Rencana ini masih berada pada tahap negosiasi dan belum menghasilkan kesepakatan final.
Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung mengatakan, opsi impor energi dari Amerika Serikat menjadi salah satu yang sedang dibahas dalam kerangka kerja sama Agreement on Reciprocal Trade (ART) antara Indonesia dan AS.
“Kita akan menambah impor dari Amerika. Dari sana kita bisa melihat operator-operator minyak besar seperti Exxon Mobil dan Chevron yang beroperasi secara global. Kita berharap mereka bisa memasok kebutuhan BBM kita, baik dalam bentuk crude atau minyak mentah maupun BBM jadi,” ujar Yuliot usai meninjau Fuel Terminal Padalarang, Bandung Barat, Jawa Barat, Senin (16/3).
Namun demikian, ia menegaskan bahwa rencana tersebut masih dalam proses negosiasi, termasuk terkait negara mana yang akan menjadi sumber pasokan energi baru bagi Indonesia.
“Belum ada kesepakatan. Saat ini masih tahap penyelesaian negosiasi, termasuk negara suplainya dari mana,” katanya.
Menurut Yuliot, upaya mencari sumber impor baru dilakukan untuk menjaga stabilitas pasokan energi nasional di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Saat ini sekitar 20 persen kebutuhan bahan bakar minyak (BBM) Indonesia dipasok dari Arab Saudi melalui jalur Selat Hormuz, yang menjadi salah satu titik penting perdagangan energi dunia. Jalur tersebut terdampak situasi konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Kondisi tersebut mendorong pemerintah mulai mempertimbangkan diversifikasi sumber impor minyak mentah agar ketahanan energi nasional tetap terjaga.
Sebelumnya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyebut Indonesia masih mengimpor minyak mentah dari Timur Tengah dengan porsi sekitar 20–25 persen dari total impor nasional. Sementara sisanya berasal dari sejumlah negara lain seperti Angola, Amerika Serikat, dan Brasil.
Di sisi lain, untuk kebutuhan BBM jadi, Indonesia masih mengandalkan pasokan dari negara-negara Asia Tenggara seperti Malaysia dan Singapura.
Langkah diversifikasi impor energi ini diharapkan dapat mengurangi ketergantungan pada satu kawasan sekaligus memastikan pasokan energi nasional tetap aman di tengah dinamika geopolitik global.





























