Jurnalindustry.com – Jakarta – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mulai memberikan tekanan kepada sejumlah pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), khususnya yang bergantung pada bahan baku impor.
Menteri UMKM Maman Abdurrahman mengakui kondisi tersebut telah dirasakan oleh beberapa sektor usaha, termasuk industri tahu dan tempe yang masih mengandalkan impor kedelai sebagai bahan baku utama.
Meski demikian, pemerintah memastikan terus melakukan berbagai langkah mitigasi untuk menjaga stabilitas ekonomi dan melindungi pelaku UMKM dari dampak gejolak nilai tukar.
Maman mengatakan, pelemahan rupiah memang belum berdampak merata ke seluruh sektor UMKM. Namun, beberapa pelaku usaha yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap bahan baku impor mulai menghadapi tantangan akibat kenaikan biaya produksi.
“Terlepas dari apa pun, kita harus mengakui bahwa ada dampak di beberapa sektor tertentu terhadap UMKM kita,” kata Maman kepada wartawan di Jakarta (10/6).
Menurut dia, salah satu sektor yang paling rentan adalah usaha tahu dan tempe. Pasalnya, kebutuhan kedelai nasional masih banyak dipenuhi melalui impor sehingga pergerakan kurs rupiah terhadap dolar AS berpengaruh langsung terhadap harga bahan baku.
“Sampai saat ini kalau kita lihat, yang sekarang muncul adalah perajin tempe dan tahu. Karena memang ketergantungan kita terhadap bahan baku impor kedelai cukup tinggi,” ujarnya.
Untuk mengantisipasi dampak yang lebih luas, Kementerian UMKM terus berkoordinasi dengan Kementerian Perdagangan, Kementerian Keuangan, dan Bank Indonesia (BI). Koordinasi tersebut dilakukan guna memantau perkembangan nilai tukar sekaligus menyiapkan langkah-langkah mitigasi bagi pelaku usaha.
Maman menegaskan pemerintah tidak akan tinggal diam menghadapi tekanan ekonomi yang berpotensi mengganggu keberlangsungan UMKM.
“Yang terpenting, pemerintah tidak akan tinggal diam dan akan terus melakukan mitigasi untuk mencegah serta mengantisipasi dampak yang bisa memengaruhi UMKM kita,” tegasnya.
Selain menyiapkan bantuan dan mitigasi untuk pelaku usaha terdampak, pemerintah juga terus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah melalui koordinasi intensif dengan Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia.
Langkah tersebut dinilai penting karena UMKM merupakan tulang punggung perekonomian nasional. Jika tekanan akibat pelemahan rupiah terus berlanjut, sektor yang bergantung pada bahan baku impor berpotensi menghadapi kenaikan biaya produksi dan penurunan margin usaha.































