Jurnalindustry.com – Jakarta – Pemerintah melalui Kementerian Perindustrian (Kemenperin) semakin serius menggarap pengembangan industri semikonduktor nasional sebagai fondasi utama transformasi industri dan penguatan daya saing global.
Langkah strategis ini mengemuka dalam pertemuan Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita dengan Country Director Asian Development Bank (ADB) untuk Indonesia, Bobur Alimov.
Menperin menegaskan bahwa semikonduktor merupakan komponen kunci dalam berbagai sektor strategis, mulai dari industri elektronika, otomotif, energi, hingga digitalisasi industri nasional.
“Indonesia memiliki pasar domestik yang sangat besar untuk produk berbasis semikonduktor, mulai dari ponsel, laptop, hingga kendaraan bermotor dan kendaraan listrik. Karena itu, pengembangan ekosistem semikonduktor nasional menjadi langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan impor sekaligus memperkuat daya saing industri,” ujar Agus Gumiwang di Jakarta.
Kebutuhan semikonduktor di dalam negeri terus melonjak seiring pertumbuhan industri manufaktur dan pesatnya adopsi teknologi baru. Produksi kendaraan bermotor nasional yang telah menembus lebih dari satu juta unit per tahun, ditambah target pengembangan kendaraan listrik hingga ratusan ribu unit pada 2030, menuntut pasokan komponen semikonduktor yang stabil dan berkelanjutan.
Di sisi lain, permintaan perangkat elektronik seperti ponsel dan laptop hingga kini masih didominasi produk impor, sehingga mempertegas urgensi penguatan industri semikonduktor dalam negeri.
Saat ini, Indonesia telah memiliki satu industri perakitan dan pengujian semikonduktor di Batam serta sejumlah perusahaan desain integrated circuit (IC). Meski demikian, Menperin menilai ekosistem nasional masih perlu diperkuat secara menyeluruh, khususnya dari sisi pengembangan sumber daya manusia (SDM), riset dan inovasi, serta integrasi ke dalam rantai pasok global.
Sebagai langkah konkret, Kemenperin menginisiasi program pengembangan ekosistem semikonduktor nasional yang berfokus pada penguatan desain chip sesuai kebutuhan industri dan berorientasi pasar global. Program ini telah masuk dalam daftar rencana pinjaman luar negeri jangka menengah atau Blue Book 2025–2029 dengan nilai pembiayaan mencapai USD 16,185 juta.
“Fokus utama kami adalah membangun kapabilitas SDM nasional di bidang desain chip, menyediakan infrastruktur bersama untuk riset dan prototipe, serta memperkuat kolaborasi antara industri, perguruan tinggi, dan mitra global,” jelas Agus.
ADB Nyatakan Komitmen Dukung Indonesia
Dalam pertemuan tersebut, ADB menyatakan minat dan komitmennya untuk mendukung pengembangan ekosistem semikonduktor nasional. Dukungan ini meliputi pendampingan penyusunan readiness criteria, feasibility study, hingga memastikan kesiapan proyek agar memenuhi kriteria Green Book sebelum masuk ke tahap pembiayaan.
Menperin pun mengapresiasi dukungan ADB yang dinilai sejalan dengan agenda pembangunan nasional, terutama dalam penguatan human capital, penguasaan teknologi, dan peningkatan nilai tambah industri dalam negeri.
“Kami berharap kerja sama dengan ADB dapat mempercepat terwujudnya ekosistem semikonduktor nasional yang kuat, berdaya saing, dan terintegrasi dengan rantai nilai global, sekaligus membuka peluang investasi baru di sektor industri berteknologi tinggi,” pungkasnya.































