https://jurnalindustry.com Jakarta – Jumlah korban meninggal dunia akibat gempa bumi di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) mencapai 100 orang. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebut sebagian besar korban yang meninggal merupakan pasien yang sebelumnya mengalami luka berat dan menjalani perawatan di fasilitas kesehatan.
Kepala BNPB Suharyanto mengatakan, pada hari pertama dan kedua pascagempa tercatat 48 orang meninggal dunia. Namun, jumlah tersebut terus bertambah karena sejumlah korban luka berat tidak berhasil diselamatkan.
“Untuk jumlah meninggal, ini perlu kami tegaskan, bahwa yang meninggal seratus ini adalah korban gempa yang semula luka berat, yang dirawat di fasilitas kesehatan, ini tidak berhasil diselamatkan,” kata Suharyanto dalam konferensi pers daring di Jakarta, Senin.
Selain korban meninggal, gempa tersebut menyebabkan 1.603 orang mengalami luka-luka. Sementara itu, sebanyak 180.327 warga terpaksa mengungsi untuk menyelamatkan diri.
BNPB juga mencatat aktivitas kegempaan masih terjadi di wilayah Flores. Berdasarkan data BMKG hingga pukul 05.00 WIB pada hari kedelapan pascabencana, tercatat 6.409 kali gempa susulan.
Dari ribuan gempa tersebut, sebanyak 139 kali gempa dirasakan oleh masyarakat. Gempa susulan terbesar tercatat mencapai magnitudo 6,2, sedangkan yang terkecil berkekuatan magnitudo 1,1.
Sementara itu, terdapat 33 gempa susulan dengan kekuatan magnitudo 5 atau lebih yang dirasakan warga.
“Dari 6.409 kali gempa itu ada 139 kali yang dirasakan oleh masyarakat,” ujar Suharyanto.
BNPB memperkirakan aktivitas gempa susulan masih berpotensi berlangsung selama tiga hingga empat minggu ke depan. Meski demikian, intensitasnya diperkirakan terus menurun seiring proses stabilisasi lempeng bumi.
Di tengah situasi darurat, BNPB juga menyoroti beredarnya informasi palsu atau hoaks mengenai potensi tsunami susulan.
Informasi tersebut membuat sebagian warga panik dan memilih mendirikan pengungsian secara mandiri di lokasi yang jauh dari jangkauan petugas, termasuk kawasan perbukitan.
Suharyanto menegaskan bahwa isu mengenai tsunami susulan tersebut tidak benar. Ia meminta masyarakat tidak mudah percaya terhadap informasi yang tidak berasal dari sumber resmi.
“Semua itu tidak betul, karena setiap pagi instansi yang berwenang, sekali lagi Kepala BMKG selalu menginformasikan perkembangan gempa. Dalam delapan hari ini tidak pernah ada satu pun gempa susulan yang melebihi gempa utama,” tegasnya.
BNPB mengimbau masyarakat untuk mengikuti perkembangan informasi dari BMKG, BNPB, pemerintah daerah, dan instansi resmi lainnya.
BNPB mengakui distribusi bantuan ke seluruh lokasi pengungsian masih menghadapi tantangan. Sejumlah warga memilih bertahan di titik pengungsian mandiri yang berada jauh dari lokasi pengungsian terpusat.
Untuk menjangkau mereka, pemerintah daerah berupaya menyalurkan bantuan menggunakan kendaraan berukuran kecil hingga berjalan kaki melewati kawasan perbukitan.
“Apakah semuanya sudah ter-cover, apakah semuanya sudah dapat, apakah semuanya sudah cukup, kami jawab belum cukup. Tetapi seiring dengan berjalannya waktu, kami akan berusaha sekuat tenaga agar para pengungsi mandiri tetap dilayani kebutuhan logistik dan kebutuhan dasar manusia lainnya,” kata Suharyanto.
Pemerintah memastikan penanganan darurat dan distribusi kebutuhan dasar akan terus dilakukan sembari memantau perkembangan aktivitas gempa di Flores dan sekitarnya.































