Jurnalindustry.com – Jakarta – Kinerja sekor industri manufaktur Indonesia menunjukkan sinyal yang semakin kuat di tengah tekanan global. Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menegaskan bahwa sektor ini tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga terus menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi nasional.
Juru Bicara Kemenperin, Febri Hendri Antoni Arief menyampaikab bahwa industri manufaktur nasional memperlihatkan daya tahan tinggi dan kemampuan adaptasi di tengah ketidakpastian ekonomi dunia.
“Kinerja sektor manufaktur Indonesia menunjukkan hasil yang kuat. Kontribusinya meningkat, tenaga kerja bertambah, investasi tumbuh, dan tetap menjadi penopang utama ekonomi nasional,” kata Febri di Jakarta.
Pada 2025, industri pengolahan nonmigas mencatat pertumbuhan sebesar 5,30 persen, melampaui pertumbuhan ekonomi nasional yang sebesar 5,11 persen. Ini menjadi momen penting karena untuk pertama kalinya dalam 14 tahun terakhir, pertumbuhan industri pengolahan kembali lebih tinggi dibandingkan ekonomi nasional.
Tak hanya itu, kontribusi manufaktur terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) juga terus meningkat. Dari 17,92 persen pada Triwulan II 20222, naik menjadi 19,20 persen pada Triwuan IV 2025. Kenaikan sebesar 1,28 poin presentase ini menegaskan posisi menufaktur sebagai kontributor terbesar dalam perekonomian Indonesia.
Dari sisi tenaga kerja, sektor industri pengolahan nonmigas juga menunjukkan tren positif. Berdasarkan data Sakernas, jumlah tenaga kerja meningkat dari 15,49 juta orang pada 2015 menjadi 20,26 juta orang pada Agustus 2025, angka tertinggi sepanjang periode pengamatan.
Meski sempat terdampak pandemi, sektor ini terbukti cepat pulih dan kembali menjadi salah satu penyerap tenaga kerja terbesar di Indonesia.
Lonjakan kinerja manufaktur juga didorong oleh derasnya investasi. Data SIINas per 23 April 2026 mencatat, pada Triwulan I 2026 terdapat 633 perusahaan yang membangun fasilitas produksi baru dengan total nilai investasi mencapai Rp418,62 triliun.
Dari jumlah tersebut, subsektor industri logam dasar menjadi penyumbang investasi terbesar dengan nilai Rp218,04 triliun. Disusul industri kimia sebesar Rp81,22 triliun dan industri barang galian bukan logam Rp12,10 triliun.
Sementara itu, sektor padat karya seperti industri kulit dan alas kaki mencatat potensi penyerapan tenaga kerja tertinggi, yakni 37.350 orang.
Kemenperin menilai capaian ini tidak lepas dari berbagai kebijakan pro-industri, seperti reformasi Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), penerapan kebijakan non-tarif barrier, hingga pembangunan kawasan industri.
Selain itu, sinergi antar kementerian serta dorongan kebijakan hilirisasi juga turut memperkuat struktur industri nasional.
“Di tengah tekanan global, industri nasional tetap mampu tumbuh di atas 5 persen. Ini menunjukkan resiliensi yang sangat kuat dan daya saing yang terus meningkat,” kata Febri.
Ke depan, pemerintah optimistis tren positif ini akan berlanjut seiring dengan penguatan hulirisasi, substitusi impor, transformasi industri 4.0, serta ekspansi ke pasar ekspor nontradisional.
Dengan kombinasi investasi besar, peningkatan tenaga kerja, dan kebijakan yang mendukung, sektor manufaktur diproyeksikan tetap menjadi tulang punggung ekonomi Indonesia.
“Industri Indonesia terus bergerak menuju fase penguatan struktur ekonomi nasional,” tutup Febri.






























