Jurnalindustry.com – Jakarta – Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) mengungkap sedikitnya 6.500 pekerja berpotensi terdampak pemutusan hubungan kerja (PHK) atau dirumahkan di dua perusahaan besar di Jawa Timur dan Jawa Barat.
Temuan tersebut memunculkan kekhawatiran baru terhadap kondisi industri nasional yang disebut mulai menghadapi tekanan serius.
Presiden KSPI Said Iqbal mengatakan, pelemahan industri dipicu oleh sejumlah faktor, mulai dari menurunnya pesanan ekspor, kenaikan biaya produksi, fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, hingga dampak konflik geopolitik internasional.
“Perusahaan Indonesia yang berorientasi ekspor seperti sepatu dan garmen mengalami penurunan permintaan dari luar negeri akibat situasi perang, sehingga produksi ikut menurun,” kata Said dalam konferensi pers KSPI dan Partai Buruh di Jakarta.
Said mengaku telah melakukan kunjungan ke beberapa kawasan industri di Jawa Timur, Jawa Barat, dan Jakarta guna memetakan potensi PHK sekaligus menyiapkan langkah mitigasi bersama pemerintah dan serikat pekerja.
Salah satu sorotan utama KSPI mengarah ke PT Pakerin di Mojokerto, Jawa Timur. Perusahaan yang bergerak di industri bubur kayu dan kertas tersebut disebut menghadapi persoalan serius yang mengancam keberlangsungan operasional.
Menurut Said, sekitar 2.500 pekerja berpotensi terkena PHK.
“Ditemukan ada potensi ancaman 2.500 pekerja akan di-PHK,” ujarnya.
Ia menjelaskan sebagian besar operasional perusahaan telah berhenti. Saat ini hanya sekitar 20 persen aktivitas pabrik yang masih berjalan, sementara sisanya tidak beroperasi.
KSPI juga mendapatkan informasi bahwa modal kerja perusahaan senilai sekitar Rp800 miliar hingga Rp1 triliun tersimpan di Bank Prima Jawa Timur yang telah dilikuidasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan kemudian diambil alih oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).
Akibat kondisi tersebut, operasional perusahaan menjadi terganggu. Sebagian besar pekerja disebut sudah hampir dua tahun tidak bekerja, sedangkan hanya sekitar 500 pekerja yang masih aktif.
Menurut Said, perusahaan membutuhkan tambahan modal sekitar Rp250 miliar agar bisa kembali berjalan normal.
Selain PT Pakerin, KSPI juga menyoroti kondisi PT Feng Tay di Kabupaten Bandung, Jawa Barat, perusahaan manufaktur sepatu yang memproduksi produk untuk merek global Nike.
KSPI menyebut sekitar 4.000 pekerja telah dirumahkan dan berpotensi mengalami PHK apabila situasi tidak membaik.
“Temuan awal menyatakan ada ancaman PHK 4.000 karyawan. Jadi 4.000 orang ini dirumahkan, belum di-PHK,” kata Said.
Ada dua dugaan awal penyebab kondisi tersebut. Pertama, pesanan sepatu Nike yang diproduksi perusahaan telah selesai dan masih menunggu order berikutnya. Kedua, terdapat kendala pasokan bahan baku akibat perubahan vendor yang dipengaruhi kondisi perang global.
“Orderan sepatu Nike ke PT Feng Tay sudah selesai sehingga menunggu order berikutnya, belum ada kepastian,” jelasnya.
KSPI berencana meninjau langsung kondisi perusahaan bersama Kementerian Ketenagakerjaan dan dinas terkait.
Tak hanya sektor kertas dan alas kaki, KSPI juga mengungkap potensi persoalan di dua perusahaan komponen otomotif di Pasuruan dan Mojokerto yang disebut berinisial J dan S.
Menurut Said, perusahaan induk dari Jepang dikabarkan tengah mempertimbangkan relokasi sebagian produksi ke negara lain seperti Vietnam. Selain itu, perubahan tren industri menuju kendaraan listrik juga disebut memengaruhi keputusan bisnis.
Sementara itu, perkembangan berbeda terjadi di PT Amos di Cilincing, Jakarta Utara. Perusahaan garmen asal Korea Selatan tersebut sebelumnya dilaporkan mengalami masalah pembayaran gaji dan kepesertaan BPJS pekerja.
Namun KSPI menyebut persoalan mulai menunjukkan perkembangan positif setelah dilakukan koordinasi dengan Kementerian Ketenagakerjaan.
Seluruh temuan mengenai potensi PHK ini rencananya akan dilaporkan kepada Presiden Prabowo Subianto sebagai bahan evaluasi dan langkah antisipasi.
“Harus segera diambil langkah-langkah mitigasi oleh pemerintah bersama serikat buruh,” tutup Said.






























