https://jurnalindustry.com Jakarta – Industri perhotelan Indonesia mulai memasuki babak baru. Jika sebelumnya keberhasilan hotel diukur dari tingginya tingkat okupansi, kini pelaku industri lebih fokus mengejar tamu dengan daya beli tinggi demi meningkatkan kualitas pendapatan dan profitabilitas jangka panjang.
Temuan tersebut diungkapkan Colliers Indonesia dalam riset terbarunya yang menyoroti perubahan strategi bisnis hotel di Jakarta dan Bali seiring bergesernya pola permintaan pascapandemi.
Head of Research Colliers Indonesia Ferry Salanto mengatakan, baik Jakarta maupun Bali kini memiliki arah yang sama, yakni meningkatkan kualitas pendapatan dibanding sekadar mengejar jumlah tamu.
“Meskipun Jakarta dan Bali menghadapi dinamika pasar yang berbeda, keduanya bergerak menuju tujuan yang sama, yaitu meningkatkan kualitas pendapatan. Hotel tidak lagi hanya bersaing mengejar okupansi, tetapi juga berupaya menarik tamu yang memberikan kontribusi pendapatan lebih besar melalui tingkat belanja, pengalaman menginap, dan loyalitas mereka,” ujar Ferry.
Di Jakarta, perubahan terjadi setelah permintaan dari sektor pemerintah, khususnya kegiatan rapat, konferensi, dan acara resmi (MICE), mengalami penurunan akibat kebijakan efisiensi anggaran.
Kondisi tersebut membuat operator hotel mengubah strategi dengan membidik segmen perjalanan korporasi, wisatawan mandiri (FIT), staycation, keluarga, pesta pernikahan, hingga berbagai kegiatan sosial.
Menurut Colliers, hotel di Jakarta kini juga mulai bertransformasi menjadi destinasi gaya hidup yang menawarkan pengalaman, bukan sekadar tempat menginap.
“Hotel di Jakarta tidak lagi menunggu pulihnya permintaan dari sektor pemerintah. Mereka kini membangun sumber pendapatan yang lebih beragam dan lebih tangguh,” kata Ferry.
Meski tingkat okupansi masih menghadapi tantangan, tarif rata-rata kamar (Average Room Rate/ARR) dinilai tetap stabil karena didukung diversifikasi sumber pendapatan dan terbatasnya pasokan hotel baru.
Sementara itu, di Bali, tantangan industri bukan lagi mengembalikan jumlah wisatawan seperti masa pemulihan pandemi, melainkan meningkatkan nilai ekonomi dari setiap wisatawan yang datang.
Colliers mencatat hotel-hotel di Pulau Dewata kini lebih agresif menyasar wisatawan premium dengan tingkat belanja tinggi melalui layanan wellness, pengalaman budaya, hingga pelayanan yang lebih personal.
Selain itu, proyek hotel baru di Bali juga didominasi segmen mewah. Hingga 2029 diperkirakan akan hadir sekitar 1.700 kamar baru, yang sebagian besar berasal dari pembangunan hotel bintang lima.
“Fase pertumbuhan Bali berikutnya akan ditentukan oleh nilai yang dihasilkan setiap tamu, bukan oleh banyaknya wisatawan. Hotel yang mampu menghadirkan pengalaman berbeda dan menarik tamu dengan potensi belanja lebih tinggi akan lebih siap menjaga kinerja jangka panjang,” jelas Ferry.
Colliers menilai tingginya minat investor terhadap hotel mewah menunjukkan optimisme terhadap prospek Bali sebagai destinasi premium dunia. Wisatawan internasional juga dinilai semakin lama menginap dan memiliki tingkat pengeluaran yang lebih tinggi, sehingga mampu meningkatkan profitabilitas industri perhotelan.
Dengan perubahan strategi tersebut, Colliers memperkirakan sektor perhotelan Indonesia akan semakin mengedepankan kualitas layanan, pengalaman menginap, dan diversifikasi sumber pendapatan sebagai kunci menjaga pertumbuhan bisnis di tengah perubahan perilaku wisatawan global.






























